Sejarah berdirinya Jajaka Nusantara (Jawara Jaga Kampung) tidak terlepas dari keresahan sosial dan semangat pelestarian budaya lokal di wilayah Bekasi. Organisasi ini lahir dari tangan dingin H. Damin Sada, seorang tokoh asli Bekasi yang dikenal sebagai "Jawara Gabus".
Berikut adalah sejarah lengkap perjalanannya:
1. Latar Belakang dan Sosok Pendiri
Organisasi ini didirikan dan dipimpin oleh H. Damin Sada, seorang mantan Kepala Desa Sriamur, Tambun Utara (menjabat 1993–2007). Sebagai putra asli daerah, Damin Sada melihat adanya ancaman terhadap identitas lokal Bekasi akibat industrialisasi yang sangat masif. Bekasi yang dulunya kental dengan budaya agraris dan religius, berubah menjadi kota industri yang heterogen, di mana masyarakat lokal seringkali merasa terpinggirkan.
2. Awal Mula Pembentukan (Deklarasi)
Jajaka Nusantara mulai dikenal luas secara masif sekitar tahun 2016–2017. Nama Jajaka sendiri merupakan akronim dari Jawara Jaga Kampung.
Tujuan Awal: Menyatukan para "jawara" (orang yang memiliki kemampuan bela diri atau pengaruh di kampung) agar tidak bergerak sendiri-sendiri atau terjebak dalam aksi premanisme.
Transformasi: Damin Sada ingin mengubah citra jawara yang dulunya mungkin dianggap menakutkan, menjadi sosok pelindung dan penjaga keamanan kampung yang berbasis pada nilai-nilai agama.
3. Simbol dan Filosofi "Golok & Bambu Kuning"
Salah satu tonggak sejarah Jajaka adalah inisiasi simbol Golok dan Bambu Kuning.
Golok: Melambangkan kearifan lokal Betawi-Sunda dan kesiapan untuk membela diri.
Bambu Kuning: Melambangkan perjuangan rakyat kecil (seperti pejuang kemerdekaan) dan simbol penolak bala.
Simbol ini kemudian dipasang secara permanen di beberapa titik strategis di Bekasi, seperti di Stadion Wibawa Mukti, sebagai pengingat akan identitas asli daerah tersebut.
4. Perluasan Menjadi "Jajaka Nusantara"
Meskipun basis kuatnya ada di Bekasi (khususnya wilayah Gabus), ormas ini menambahkan kata "Nusantara" di belakang namanya untuk menegaskan bahwa semangat menjaga kampung tidak hanya untuk Bekasi, tapi untuk kedaulatan bangsa secara umum. Jajaka mulai membentuk kepengurusan di berbagai daerah di Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga luar Jawa.
5. Titik Balik Populeritas
Nama Jajaka Nusantara meledak di tingkat nasional saat H. Damin Sada sering terlibat dalam aksi-aksi yang membela martabat masyarakat lokal dan agama. Beberapa momen bersejarahnya antara lain:
Aksi Bela Agama: Keterlibatan aktif dalam aksi-aksi sosial keagamaan yang membuat ormas ini semakin disegani oleh kalangan ulama.
Tantangan Duel: H. Damin Sada sempat viral karena tantangan-tantangan terbuka kepada pihak-pihak yang dianggap meremehkan martabat orang Bekasi atau mengancam kerukunan agama, yang ia maksudkan sebagai bentuk "ketegasan jawara".
6. Perkembangan Saat Ini
Saat ini, Jajaka Nusantara telah bertransformasi dari sekadar perkumpulan jawara lokal menjadi ormas yang terstruktur secara administratif. Mereka aktif dalam:
Konsolidasi Politik: Sering menjadi mitra atau pendukung dalam kontestasi politik lokal untuk memastikan aspirasi warga Bekasi tersampaikan.
Pelestarian Seni: Secara rutin mengadakan kegiatan pencak silat dan budaya guna memastikan generasi muda Bekasi tidak lupa akan akar budayanya.
Inti dari sejarahnya: Jajaka didirikan sebagai benteng pertahanan budaya dan keamanan bagi warga lokal Bekasi agar tetap menjadi "Tuan Rumah" di tanahnya sendiri di tengah gempuran modernisasi.
7. Visi dan Misi
Secara garis besar berfokus pada penguatan peran masyarakat lokal dalam menjaga keamanan, melestarikan identitas budaya, serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Visi
Menjadi organisasi kemasyarakatan yang kuat dan mandiri untuk mewujudkan lingkungan yang aman, tertib, serta religius dengan berlandaskan pada pelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Misi
Untuk mencapai visi tersebut, Jajaka menjalankan beberapa misi utama:
Menjaga Keamanan Kampung (Social Safety): Memberdayakan para anggotanya untuk aktif membantu pemerintah dan aparat keamanan dalam menjaga kondusivitas wilayah dari berbagai ancaman atau gangguan kamtibmas.
Melestarikan Budaya dan Tradisi: Menjadi benteng pertahanan bagi seni bela diri (pencak silat), adat istiadat, dan tradisi lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Mempererat Silaturahmi antar Jawara: Menyatukan para tokoh masyarakat dan pemuda di setiap wilayah untuk bersinergi, sehingga tidak terjadi gesekan antar kelompok di akar rumput.
Menjalankan Syiar Agama: Memastikan setiap langkah organisasi tetap dalam koridor nilai-nilai religius, dengan menekankan bahwa seorang "jawara" sejati adalah mereka yang taat beragama dan berakhlak baik.
Aksi Sosial dan Kemanusiaan: Hadir di tengah masyarakat saat terjadi bencana atau kesulitan sosial sebagai bentuk pengabdian langsung kepada warga.
Secara filosofis, Jajaka sering menekankan slogan bahwa mereka ingin menjadi "Tuan Rumah di Negeri Sendiri", yang artinya masyarakat lokal harus berdaya secara ekonomi, sosial, dan budaya di tanah kelahirannya.